Kamis, 17 Mei 2012

Perlawanan Indonesia Terhadap Jajahan Inggris



Awalnya artikel ini saya cari buat bantuin tugas adek saya yang kelas 1 SMP (Ghiffari Zaka Waly), semoga bermanfaat. Selamat membaca!!

Kebijakan Raffles juga menimbulkan reaksi raja-raja pribumi. Di Yogyakarta timbul perlawanan Sultan Hamengkubuwono III (Sultan Sepuh), tetapi berkat politik adu domba Inggris, akhirnya Sultan Hamengkubuwono III dapat dikalahkan dan diasingkan ke Pulau Pinang, kemudian ke Ambon. Demikian pula perlawanan di Banten, Surakarta dan Palembang juga dapat dipatahkan oleh Inggris

Perlawanan Rakyat Jawa Terhadap Penjajahan Bangsa Inggris
Pada saat Inggris berkuasa menggantikan Belanda di Jawa, yang mengisi kekeuasaan di pusat adalah Raffles, sedangkan di keresidenan Yogyakarta adalah John Crawfurd.
Rasa kekesalan yang dilampiaskan Sultan diterima oleh Crawfurd. Pada kunjungan pertama yang dilakukan Raffles ke Jawa Tengah pada Desember 1811 yang disana ia menandatangani perjanjian-perjanjian dengan para penguasa. Memperoleh kesepakatan bahwa ia akan membatalkan perampasan-perampasan wilayah yang dilakukan oleh Daendels. Sikap Raffles banyak menyesuaikan dengan keadaan dan diaanggap lemah oleh Sultan. Sementara itu terjadi surar-menyurat secara rahasia oleh Sunan dan Sultan untuk melaksanakan penyerangan terhadap pemerintah Inggris. Namun kabar tersebut terdengar oleh Raffles dan dengan segera ia mempersiapkan pasukannya. Dan pada bulan April 1812 ekspedisi terhadap Sultan dilakukan. Sultan yang menghadapi pasukan Inggris tidak mendapat bala bantuan dari Surakarta. Seperti yang tertulis dalam surat rahasia bahwa suarakarta akan membantu Yogyakarta apabila bersedia melakukan perlawanan terhadap Inggris. Hal tersebut akhirnya diketahui oleh Raffles dan kraton Yogyakarta harus membayhar ganti rugi yang dialami oleh Inggris dan jumlahnya lebih besar dari apa yang ditanggung oleh Kraton Surakarta.
Tanggal 11 Agustus 1812 diadakan perjanjian atas rampasan daerah mancanegara dan daerah takluk Kedu. Dan ulah yang dibuat Raffles lainnya adalah pemecahan kesetiaan terhadap Kraton Yogyakarta yaitu dengan mengangkat Natakusuma sebagai Paku Alam yang bertanggungjawab kepada pemerintah Eropa. Kesusahan yang terjadi di Yogyakarta masih berlangsung sanpai Sultan HB III. Sultan yang baru ini belum bisa mengembalikan keadaan kraton sepenuhnya karena secara tiba-tiba ia wafat. Dan kedudukan selanjutnya digantikan oleh anaknya yang masih muda. Karena anaknya belum belum mampu untuk memegang kekuasaan maka kekuasaan dipegang oleh Paku Alam. Namun kondisi tersebut disalahgunakan olehnya dengan cara memperkaya diri. Kemudian setelah diketahui kondisi yang demikian maka kekuasaan dipegang Ratu Ibu dan Patih Danurejo IV.
Kondisi yang terjadi di kraton mendapat banyak kritikan salah satunya adalah Diponegoro seorang pangeran dari selir Sultan HB III. Ia jarang sekali terlihat di kraton namun ia hidup di desa Tegalrejo bersama pamannya. Dan ia hanya datang ke kraton hanya pada saatgerebeg saja. Pada permasalahan-permasalahan yang terjadi di kraton Diponegoro selalu turut serta dan ia pun tidak suka cara yang dilakukan oleh patih Danurejo. Apa yang dilakukannya selalu berlawanan dengan apa yang seharusnya terjadi dalam pemerintahan Kraton. Sehingga banyak yang tidak suka dengan cara kerja yang dilakukannya.
Hingga pada suatu ketika pada saat Crawfurd telah digantikan Smitsser dan Danurejo masih memegang kekuasaan suasana politik dalam kraton semakin tidak menentu. Banyak sekali para pejabat yang diberhentikan olehnya. Sehingga banyak sekali yang tidak suka dengan sikap Danurejo.
Sejak diberhentikannya bupati Banyumas Diponegoro jadi sering tidak kelihatan dalam kraton , ia kembali ke desanya untuk mengumpulkan massa guna melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda dan Danurejo. Konsep perang sabil pun menjadi landasan perlawanan, sebab ia adalah seorang tokoh yang memebimbing keagamaaan Sultan dalam kraton. Para pengikut dan pendukung Diponegoro pun semakin banyak sehingga terjadilah perang yang berkecamuk di Yogyakarta.

Pemberontakan sepoy Tahun 1815 terjadi pada saat akhir kekuasaan Inggris di Pulau Jawa. Pemerontakan itu dipicu oleh adanya persekongkolan yang terjadi diantara pasukan Sepoy dan Pakubuwono IV. Pasukan sepoy adalah pasukan yang dibawa oleh Inggris dari india ketika Belanda dikalahkan oleh perancis untuk membersihkan tanah jawa dari orang-orang Belanda. Tugas dari pasukan sepoy hanyalah sebagai pasukan sukarela saja yang ditempatkan di keresidenan jawa.
Persekongkolan ini dimulai ketika Belanda terlepas dari perancis yang telah terdengar oleh pasukan Sepoy. Pasukan sepoy yang mengetahui hal tersebut khawatir bahwa apabila suatu sat Inggris akan meninggalkan Jawa maka mereka tidak ikut dibawa ke India. Pikiran tersebut selalu membayangi mereka, hingga mereka menukan cara untuk bisa mengadakan perlawanan terhadap Inggris. Ide seperti itu kemudian dikembangkan dan agar mereka mendapat dukungan dari kraton para pangeran salah satu dari mereka yaitu pemimpinnya, Dhaugkul Syihk, mencoba untuk mendekati Pakubuwono VI. Dengan mendekati pakubuwono VI akhirnya mereka mendapatkan dukungan dari kraton para pangeran, namun tidak untuk Yogyakarta. Mereka tidak mendapat dukungan dari Sultan meski Dhaugkul Sikh mendekatinya.
Pendekatan yang dilakukan oleh Dhaugkul Sikh kepada adalah dengan cara menyamakan kesamaan budaya yang ada di jawa dan yang ada di india, bukan hanya itu ia juga menyenangkan hati Sunan dengan cara menghadirkan kesenian dari India. Setelah meluluhkan hati Sunan ia pun melancarkan aksinya dengan membujuk bekerjasama untuk melawan Inggris. Dan Sunan menerima karena ia berkeinginan untuk meningkatkan hegemominya di jawa yang telah terkalhkan oleh Yogyakarta. Hal lain adalah agar anaknya dapat menjadi Sultan di Yogyakarta dan pangeran dari Mangkubumi dapat menjadi pengusa Surakarta.
Setelah diketahui oleh Raffles bahwa terjadi persekongkolan yang terjadi antara pasukan sepoy dan Pakubuwono VI maka Raffles mengirim pasukan untuk menyelidikinya dan mengancam kepada pasukan Sepoy bahwa siapa yang melakukan persekongkolan akan ditembak mati. Dan ketika Pakubuwono berjanji pada Mangkubumi akan melindunginya apabila akan ditangkap oleh pasukan Inggris maka Pakubuwono tidak melindunginya dan malah membiarkan Mangkubumi ditangkap dan diasingkan.

Perlawanan Rakyat Palembang Terhadap Penjajahan Bangsa Inggris
Raffles merasa bahwa karena Palembang adalah bekas daerah kekuasaan Belanda maka secara otomatis Palembang adalah wilayah kekuasaan Inggris juga ketika Belanda menyerah kepada Inggris. Karena itu Raffles mengirim 3 orang utusan dipimpin oleh Richard Philips ke Palembang untuk mengambil alih kantor sekaligus benteng Belanda di Palembang dan meminta hak kuasa sultan atas tambang timah di Pulau Bangka.
Sultan Mahmud Baharuddin menolak permintaan itu dengan merujuk pada surat Raffles sebelumnya bahwa kalau Belanda berhasil diusir, Palembang akan menjadi kesultanan yang merdeka. Tentu saja Raffles kaget luar biasa setelah mengetahui bahwa dengan cerdas Sultan Mahmud Badaruddin menjadikan isi suratnya dahulu sebagai legitimasi untuk melepaskan diri dari kekuasaan Inggris.
Raffles akhirnya memilih mengkhianati janjinya tersebut. Dia mengirim ekspedisi perang di tahun 1812 yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Robert Gillespie. Sebulan kemudian sampailah ekspedisi tersebut di Sungai Musi. Sultan Badaruddin juga sudah bersiap-siap menghadapi gempuran tersebut. Dibangunnya pertahanan di setiap lokasi yang strategis. Disiapkannya pula rakit yang dilengkapi meriam juga perahu bersenjata api. Pasukan Sultan Badaruddin juga membuat rakit-rakit yang memuat minyak yang mudah terbakar. Rencananya rakit api ini akan diarahkan untuk ditabrakkan ke kapal Inggris. 242 meriam juga disiapkan di benteng Palembang untuk menghadapi pertempuran ini.
Kesultanan Palembang akhirnya jatuh ke tangan Inggris hanya dalam hitungan seminggu. Karena pertahanan di Pulau Borang sudah jebol tanpa perlawanan yang berarti. Ternyata adik sultan yang bernama Pangeran Adipati Ahmad Najamuddin telah menjadi komandan yang pengecut bagi pasukannya di pulau yang strategis ini. Mengetahui itu, Sultan Badaruddin segera meninggalkan kraton Palembang dengan membawa seluruh tanda kebesaran kesultanan lalu mempersiapkan perlawanan gerilya terhadap Inggris.
Tanggal 26 April 1812 bendera Inggris sudah berkibar di atas benteng Palembang. 14 Mei 1812, Najamuddin diangkat oleh Robert Gillespie atas nama Inggris sebagai sultan Palembang menggantikan kakaknya. Tambang timah di Pulau Bangka dan Belitung pun akhirnya diserahkan oleh sultan boneka ini kepada Inggris. Menyusul keberhasilan ekspedisi ini, Robert Gillespie ditarik pulang ke Batavia untuk digantikan oleh kapten R. Mearers menjadi Residen Palembang. Pertengahan Agustus 1812, Mearers memimpin pasukannya untuk menyerbu pertahanan gerilya Sultan Badaruddin di Buaya Langu, hulu Sungai Musi. Dalam pertempuran tersebut, Mearers mengalami luka parah yang berujung pada kematiannya di sebuah rumah sakit di Muntok.
Meares lalu digantikan oleh Mayor William Robinson. Tampaknya dia tidak cocok dengan Sultan Najamuddin yang dinilai menjadi sultan yang lemah dan tidak dihargai oleh rakyat Palembang. Dia sebenarnya juga tidak setuju dengan keputusan Raffles mengangkat sang sultan tersebut. Juga kebiasaan Raffles yang suka mengumbar janji, juga pembiaran yang dilakukan Raffles pada peristiwa pembantaian pasukan Belanda. Karena itu atas inisiatifnya sendiri Robinson mengirim seorang perwira didampingi penerjemah untuk bernegosiasi dengan Sultan Badaruddin. Misi gagal.
Akhirnya Robinson datang sendiri menemui Sultan Badaruddin di Muara Rawas pada tanggal 19 Juni 1813. Misi berhasil. Sultan Badaruddin mau kembali ke Palembang untuk kembali menjadi sultan menggantikan adiknya, Najamuddin. Sementara dia mengijinkan Inggris untuk meneruskan konsesi timahnya di Pulau Bangka dan Belitung. Demikianlah akhirnya tanggal 13 Juli 1813, Sultan Badaruddin kembali menghuni istananya (keraton besar) di Palembang. Sementara Najamuddin bertempat tinggal di keraton lama.
Raffles tersinggung berat dengan keputusan si Robinson dengan dalih tidak meminta pendapatnya lebih dahulu. Akhirnya perjanjian Robinson dengan Sultan Badaruddin dibatalkan sepihak. Robinson dipecat lalu ditangkap dengan alasan menerima suap dari Sultan badaruddin.
Pada tanggal 4 Agustus 1813, armada Inggris dipimpin Mayor W. Colebrooke tiba di Palembang untuk menurunkan Sultan Badaruddin dari tahtanya kembali untuk digantikan oleh Sultan Najamuddin. Uang yang dikatakan uang suap untuk Robinson, dikembalikan pihak Inggris ke Sultan Badaruddin lengkap dengan bunganya. 21 Agustus 1813, Sultan Najamuddin kembali menduduki tahtanya di keraton besar. Pada 1814, Napoleon kalah. Sesuai traktat London yang ditandatangani pada tanggal 13 Agustus 1814, Belanda kembali berkuasa di Nusantara.

Sumber:

2 komentar:

  1. pelajaran sejarah merupakan pelajaran yg paling tidak aku sukai dulu di tambah yg ngajar ga semangat jadi weee di kelas ngantuk terus tapi sekarng malah pengin tau sejarah.
    aku udah punya buku api sejarah 1 & 2 *pamer

    BalasHapus
  2. hahhaha bang kok blognya namanya ganti sih. aku jg gak suka, tp disuka-sukain aja hahhahaa

    BalasHapus